Masih seputar liburan di Yogyakarta yang membuat saya belum bisa move on. Selama ini memang kota inilah yang selalu saya inginkan untuk melepas lelah sejenak.

Jika pada tulisan sebelumnya saya membahas hal apa saja yang saya rindukan dari Jakarta ketika saya berada di Jogja, kali ini yang saya tuliskan adalah hal-hal apa saja yang membuat saya mudah sekali jatuh cinta padanya.

Dan masih sama seperti tulisan-tulisan sebelumnya, di tulisan ini pun saya hanya akan curhat mengenai apa yang saya rasakan dan  mengapa Yogyakarta menjadi kota yang sangat saya inginkan.

Bertahun-tahun saya berencana untuk bisa pergi ke kota ini bersama sahabat saya, rekan satu kantor dan rekan satu kampus yang jika bicara seperti orang yang terguncang jiwanya.

Sayangnya hingga detik ini kami belum bisa untuk merealisasikannya. Saat kami sama-sama sudah memiliki uang yang cukup untuk liburan (karena dulu masih harus membiayai kuliah), kami dihadapkan dengan permasalahan waktu.

Kesibukkan yang sudah berbeda membuat kami kesulitan untuk bisa berlibur bersama. Jangankan untuk berlibur, untuk bertemu saja susahnya minta ampun. Sok sibuk memang…

Tapi Alhamdulillah akhirnya minggu lalu saya berkesempatan berlibur ke Yogyakarta meskipun tanpa sahabat  saya tersebut.

Berangkat dari Halim Perdana Kusuma International Airport, hanya butuh waktu sekitar 50 menit untuk bisa sampai di Yogya. Rasanya agak ga rela saat sedang asik-asiknya menikmati pemandangan Jogja malam hari dari atas pesawat, eh tiba-tiba sudah mau landing.

Turun dari pesawat, saya dan teman-teman dari travel yang sedang mengadakan promo di jemput dengan menggunakan kendaraan yang sudah disiapkan pihak travel. Bukan mobil pengakut sayur, tapi saya memang tidak terlalu memperhatikan. Buagguss lah pokok’e.

Saya sangat antusias ketika diajak makan malam di Oseng-oseng Mercon Bu Narti yang lumayan populer di sana. Tempatnya tak jauh dari Bandara Adi Sutjipto. Ditengah perjalanan, saya mulai mengamati dan menikmati suasana Yogyakarta sembari bersyukur akhirnya bisa sampai ke tempat ini.

Tak salah memang saya mengingkan untuk bisa berlibur ke tempat ini. Entah kenapa saya merasa kota ini sangat tenang meskipun tidak bisa dibilang sepi. Suasananya tenang dan bersahabat dan tiba-tiba saya merasa sangat jatuh cinta.

Ada beberapa hal yang menurut saya hal ini tidak saya temukan di Jakarta dan ini membuat saya sangat jatuh hati kepada kota ini.

  1. Suasananya yang Tenang

Dalam perjalanan ke Oseng-oseng Mercon Bu Narti, sepanjang jalan saya merasa suasana jalan di sini berbeda dengan di Jakarta. Meskipun pada malam itu jalanan tengah macet, tapi rasanya sangat tenang.

Tidak ada motor-motor yang salip menyalip, motor naik ke atas trotoar, knalpot motor yang bising, suara klakson tidak sabaran, atau mengambil jalur lain yang agak kosong.

Semua berjalan pada tempatnya. Sejauh yang saya lihat, semua menaati rambu-rambu lalu lintas.

Warga jogja taat rambu. Gambar oleh sewarga.com

Mungkin sebagian warga di kota lain menaati rambu hanya pada saat ada polisi saja. Sementara jika tidak ada, maka mereka melanggarnya. Padahal, salah satu tujuan dibuatnya rambu adalah untuk keselamatan bersama.

Tapi ini tidak berlaku di Jogja. Mayoritas warga di sini sangat patuh terhadap rambu-rambu lalu lintas. Contoh sederhana yang membuat saya merasa salut seperti ketika kendaraan akan ke arah kanan, mereka akan berada di jalur kanan, meskipun antriannya sangat panjang. Padahal jalur untuk kendaraan yang akan lurus atau ke kiri masih kosong. Di Jakarta, jalur yang seharusnya dua arah saja, bisa menjadi hanya satu jalur! Warbyasah, Jogja!

  1. Kesederhanaan yang menciptakan Kerinduan

Sejauh yang saya perhatikan, di Jogja ini sangat jarang gedung-gedung tinggi yang mewah dan megah seperti di Jakarta. Sangat jarang juga mall-mall dan restoran mewah seperti di Jakarta yang sangat banyak dan mudah ditemukan.

Yang banyak saya temukan adalah kesederhanaan. Seperti contohnya Angkringan khas Jawa dengan tikar untuk duduk lesehan atau rumah-rumah makan sederhana lainnya. Sederhana, semuanya sederhana namun bersahaja yang membuat rindu itu kian nyata.

Tidak lupa musisi jalanan yang walaupun sudah diberi uang di awal lagu, tapi dia akan tetap bernyayi hingga lagu selesai. Meskipun dengan alat musik sederhana, mereka sangat menghibur. Di Jakarta, ketika si pengamen diberi uang di awal lagu, biasanya  mereka langsung kabur tanpa melanjutkan lagu yang mereka nyanyikan.

Musisi jalanan di angkringan

Menikmati Jogja juga sangat sederhana, sesederhana menghabiskan waktu bersama pasangan sambil makan malam di angkringan, di bawah lampu sorot jalan dan ditemani alunan lagu dari musisi jalanan.

Menikmati Jogja bisa sangat sederhana, sesederhana menyusuri jalanan malam Jogja bersama pasangan sambil naik becak dilengkapi canda dari sang tukang becak.

Jogja mengajarkan kita bahwa bahagia itu sederhana. Tak perlu mahal dan mewah, cukup yang sederhana tapi bersahaja.. Makin cinta deh!!

  1. Serba murah meriah

Pada kunjungan pertama kali ke Jogja sekitar tahun lalu karena salah seorang kakak saya menikah di sana, saya sudah dibuat terkejut ketika membayar makanan di sebuah rumah makan yang bisa dibilang lumayan mewah.

Jika dibandingkan dengan Jakarta, apa yang saya makan pada saat itu mungkin menghabiskan dana lebih dari 200 ribu. Tapi disana saya hanya membayar tidak lebih dari 150 ribu.

Belum lagi angkringan-angkringan yang menjual berbagai macam pilihan menu khas jawa seperti sate usus, tempe bakar serta sego sambel dengan harga yang sangat murah. Apalagi bagi mahasiswa Jogja yang merantau untuk pendidikan, rasanya tak perlu khawatir kelaparan karena angkringan bisa menjadi alternatif.

Angkringan Jogja oleh bonvoyagejogja.com

Mungkin bagi mahasiswa ketika datang ke kota lain untuk bersekolah, mereka akan merasa sangat terkejut dengan betapa keras dan susahnya hidup di kota orang. Tapi ketika mahasiswa merantau ke Jogja,  mereka juga akan sangat terkejut dengan betapa ‘mudahnya’ hidup di Jogja. Hehehe..

Rasa-rasanya saya semakin betah. Dan ini jugalah yang membuat saya rasanya ingin kembali lagi.

  1. Wisata yang Mengagumkan

Beberapa hari di Jogja rasanya masih sangat kurang. Ada banyak sekali tempat wisata yang ingin saya kunjungi. Jogja memiliki banyak sekali wisata alam yang membuat saya sangat penasaran.

Bukit Panguk oleh dakatour.com

Mulai dari pantai-pantainya yang eksotis dan sunset yang romantis, Kebun Buah Mangunan yang memiliki pemandangan yang luar bisa, Kalibiru yang sedang hits, Bukit Panguk yang aduhai, megahnya candi Prambanan, Embung Nglanggeran yang bikin ga mau pulang, dan masih banyak lagi tempat wisata lain yang membuat saya ingin lebih lama disini.

“Pak Bos, cutinya boleh nambah?”

  1. Keramahan sangat kental

Hari pertama disini, bahkan ketika baru menjejakkan kaki di Jogja ini, keramahan itu bisa langsung saya rasakan. Masyarakat disini sangat murah senyum. Rasanya stok senyum mereka tak pernah habis.

Siapapun mereka, tukang becak, pedagang di pasar, security, pedagang asongan, pejalan kaki, pengendara motor, semuanya sangat ramah. Tak segan mereka membagi senyum hangat bagi kami para pendatang. Mungkin inilah yang membuat suasana di sini terasa sangat tenang.

Mungkin ini dikarenakan kesadaran masyarakatnya untuk beramah tamah serta menjunjung tata krama. Bahasa Jawa yang mereka gunakan pun termasuk Bahasa Jawa yang sangat halus dan sopan. Sehingga saya yang hanya tahu Bahasa jawa yang biasa digunakan di Jakarta menjadi agak sedikit kebingungan.

Warga lokal yang ramah oleh ensiklopedia.com

Ohiya, jika kalian mendapati seorang bapak atau ibu yang terlihat sedang mengamati kalian, kalian tak perlu merasa risih. Mereka hanya menunggu untuk disapa. Cukup kalian layangkan senyum manis dan anggukan kepala, wajah mereka pasti langsung sumringah dan ikutan nyengir.

Dan akhirnya….. Sesuatu yang tidak saya inginkan pun terjadi.

Tak terasa saya sudah menghabiskan waktu beberapa hari di sini.Tapi rasanya saya masih ingin berlama-lama di kota ini. Menikmati tiap sudut kotanya yang sederhana namun bersahaja. Rasanya saya masih ingin menyusuri kota sederhana ini, yang meski tak semegah Jakarta, tapi selalu membuat tiap orang rindu padanya.

Jogja, kota sederhana dengan segala cerita dan keramahannya, selalu mampu membuat siapa pun yang singgah menjadi betah. Seperti kata Joko Pinurbo, “Jogja itu terbuat dari rindu, pulang dan angkringan”.

Ya.. Saya rindu.. Rindu untuk bisa kembali kesana, menikmati angkringan sambil ditemani alunan lagu dari musisi jalanan.

Jogja.. Tak butuh waktu lama, aku langsung jatuh cinta. Sayonara..

 

Total
2
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: