Dewasa ini, alis menjadi hal terpenting dalam berhias. Seringkali seorang wanita menghabiskan waktu sangat lama hanya untuk menggambar alis. Sering kali pula seorang wanita menjadi bad mood hanya karena alisnya terhapus secara tidak sengaja (tentu bukan saya).

Tak jarang kita melihat perempuan yang terkesan galak lantaran gambar alis yang terlalu tebal. Mungkin mereka memang belum terbiasa menggambar alis. Bahkan mungkin mereka hanya kurang tepat dalam memilih warna pensil alis.

Akhir-akhir ini juga sangat booming perihal sulam alis. Para wanita rela menghabiskan jutaan rupiah untuk mendapatkan alis yang sempurna. Mereka rela merogoh kocek lebih dalam agar alis mereka tidak lagi mudah terhapus.

Jujur, saya pun mengakui bahwa bantuk alis memang memang mempungaruhi karakter wajah. Seringkali saya dikatakan  tomboy atau seperti laki-laki oleh teman-teman.  Awalnya saya mengira ini disebabkan gaya berpakaian saya yang cenderung seperti laki-laki. Atau mungkin dari perilaku saya sehari-hari.

Kemudian sedikit demi sedikit saya mulai memperbaiki penampilan saya. Saya mulai mengenakan pakaian yang agak perempuan. Yaaa setidaknya orang-orang tahu bahwa yang saya kenakan adalah pakaian perempuan. Saya juga mulai rajin merias wajah, minimal bedak tabur serta gincu.

Sayangnya usaha saya seperti sia-sia. Masih saja saya dikatakan tomboy dan kurang pantas memakai pakaian perempuan.

Setelah beberapa kali bercermin hingga sang cermin retak, akhirnya saya menyadari letak permasalahannya.  Selain kumis tipis di atas bibir yang kerap kali membuat orang merasa gemaayy, bentuk alis saya juga lebar dan berantakan seperti laki-laki.

Setelah bertanya sana-sini bagaimana cata menggunakan pensil alis, akhirnya saya memutuskan untuk merapihkan bentuk alis dengan menggunakan pensil alis. Saya berharap, dengan menggunakan pensil alis bisa membantu bentuk alis saya menjadi lebih perempuan.

Tapi kenyataan tak sesuai ekspektasi. Bentuk alis saya malah terlihat seperti ulat bulu dan alis asli saya pun menjadi rontok. Mungkin karena efek penggunaan pensil alis yg kurang lembut.

Akhirnya, tidak ada cara lain untuk merapihkan bentuk alis dengan cara mencukurnya. Tidak dicukur habis, melainkan hanya merapihkan agar terlihat lebih perempuan.

Sebelum melaksanakan niat tersebut, saya mencoba sharing kepada salah seorang teman guna meminta pendapatnya. Tapi jawaban yang dia berikan sangat diluar dugaan.

Dia mengatakan bahwa hukum dari mencukur alis adalah haram dalam islam. Tidak lupa ia sertakan dalil untuk memperkuat argumennya.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan “Allah melaknat tukang tato, orang yang ditato, al-mutanamishah, dan orang yang merenggangkan gigi untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-mutanamishah memiliki arti perempuan yang minta dicukur bulu di wajahnya. Sedangkan yang menjadi tukang cukurnya disebut An-Namishah.

Mengapa tidak diperbolehkan mencukur alis?

Dulu iblis pernah bersumpah “Iblis berkata : Aku bersumpah dengan keagungan-Mu Ya Allah, sungguh akan aku sesatkan mereka semua, kecuali para hamba-Mu diantara mereka yang baik imannya.” (QS. Shad : 82 – 83)

Nah, salah satu diantara misi besar si iblis ini adalah mengubah ciptaan Allah. “Sungguh aku akan perintahkan mereka untuk mengubah ciptaan Allah” (QS. An-Nisa : 119)

Selain itu, menurut sebagian besar ulama, larangan mencabut atau mencukur alis didasari sebuah alasan, yakni menghindari penyamaran para ahli maksiat karena bentuk alis sangat mempengaruhi karakter wajah.

Dikalangan Mahzab Syafi’i sendiri, penghilangan alis diperbolehkan bila telah diizinkan oleh suami. Hal ini tentu saja bertujuan mempercantik diri guna membahagiakan suami. Wallahu a’lam. Duh kok rasanya malah jadi ingin cepat-cepat bersuami.

Akhirnya setelah penjelasan yang panjang lebar, saya mengubur dalam-dalam keinginan merapihkan bentuk alis. Biarkan alis ini seperti biasa yang apa adanya dan Semoga laki-laki saya bersedia menerima saya apa adanya.

Karena cinta dan cantik tak sebatas penilaian fisik, melainkan sesuatu yang lebih dari itu.

Ya, Keduanya sama-sama berawal dari “hati” dan berakhir di “hati”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: