Siapa sih yang ga pernah jerawatan? Hampir seluruh orang di muka bumi pasti pernah punya masalah sama yang satu itu. Terutama pada masa-masa puber. Bahkan banyak juga yang mengalami jerawat diusia mereka yang sudah tidak lagi tergolong usia puber. Saya contohnya.

Saya pertama kali memiliki jerawat pada usia 12 tahun. Sebuah jerawat batu yang lumayan besar tumbuh di sudut hidung. Berhari-hari didiamkan, dia malah semakin membuat gemas. Geregetan dan gatal rasanya. Akhirnya tangan saya iseng. Saya putuskan untuk memecahkannya. Berawal dari satu jerawat itulah, jerawat lain mulai bermunculan. Istilahnya mati satu tumbuh seribu. Sudah macam pahlawan saja.

Memasuki SMP jerawat saya makin subur. Apalagi kala itu saya sangat aktif di kegiatan Paskibra. Rambut yang berponi dan memakai topi nyaris seharian ketika menjelang perlombaan. Jerawat saya sangat subur di area kening. Duh.. Sakit dan gatal rasanya.

Ibu mengatakan agar saya menjepit poni saya. Tujuannya agar area kening saya tidak lembab. Tapi apa mau dikata. Saya sangat tidak percaya diri. Jerawat keburu subur di sana. Apalagi saya juga paling hobi memakai topi. Semakin menjadilah.

Tapi dasar masih bocah, saya masih tidak terlalu ambil pusing. Cuek-cuek saja. Saya tidak melakukan perawatan apapun selain cuci muka. Itu pun menggunakan sabun pencuci muka yang sering iklan di TV.

Hari demi hari saya jalani seperti tidak ada beban. Tapi mungkin ibu saya tidak tega melihat anak perempuannya dengan kondisi seperti itu. Dibelikanlah saya bedak dingin semacam jamu yang harus dilarutkan dengan air. Lalu bedak tersebut dipakai sebagai masker setiap hendak tidur. Hasilnya? Waaaww.. Luar biasa. Ga ngaruh coy.

Akhirnya diajaklah saya ke toko obat Pasar Kramat Jati. Saya disuruh memilih obat macam apa yang saya mau. Bukannya memilih obat untuk jerawat, saya malah memilih suplemen untuk otak. Saya pun lupa namanya. Yang jelas waktu itu saya hanya ingin nilai-nilai pelajaran saya bagus. Meskipun kedua kakak saya menakut-nakuti. Mereka bilang, nanti tidak ada laki-laki yang mau dekat dengan saya jika banyak jerawat.

Memasuki SMA, tidak ada perubahan dengan jerawat-jerawat di wajah saya. Oke, mungkin jerawat di area kening sudah berkurang. Tapi jerawat di area pipi malah bertambah. Mereka hanya berpindah posisi!

Lagi-lagi, dimasa ini saya belum juga ambil pusing. Saya merasa jerawat saya masih wajar. Kecil-kecil dan tidak terlalu merah. Saya juga masih berpikir bahwa ini adalah jerawat puber. Seiring dengan bertambahnya usia, saya yakin jerawat saya akan hilang dengan sendirinya.

Sebenarnya bukan hanya saya yang mengalami masalah jerawat. Kedua kakak saya pun mengalami hal yang sama. Bahkan mereka lebih parah jika dibandingkan dengan saya. Tapi seiring bertambahnya usia, wajah mereka menjadi bersih. Jerawat hilang begitu saja. Nah, karena itu saya masih juga tidak ambil pusing perihal jerawat ini.

Menginjak kelas XI , saya memutuskan untuk berhijab. Saya akui, ketika itu wajah saya mulai agak bersih. Jerawat masih ada, tapi sedikit dan tidak terlalu besar dan merah. Itu pun saya tidak menyadari sampai seorang teman yang mengatakan pada saya bahwa wajah saya agak bersih.

Yup. Sudah agak bersih dan saya sama sekali tidak melakukan usaha apapun. Bersih seiring berjalannya waktu. Padahal masa itu saya juga masih aktif dalam kegiatan Paskibra. Cuci muka dengan sabun hanya pada saat mandi saja.

Hingga akhirnya saya lulus SMA dan memutuskan untuk bekerja. Bukan tidak mau kuliah, tapi kondisi keuangan keluarga pada saat itu tidak memungkinkan.

Saya bekerja di sebuah restoran cepat saji yang tentu saja menjual makanan-makanan cepat saji. Orang-orang bilang junkfood. Setiap harinya saya mendapatkan jatah makan nasi, ayam, dan minum. Minumannya pun soda atau minuman manis lainnya. Dan disinilah awal mula bencana. Jerawat saya balik lagi! Hiks.. ?

Awalnya saya tidak tahu menahu dan juga tidak mau tahu urusan junkfood ini dengan jerawat. Saya masih makan seperti yang biasa saya lakukan. Pekerjaan saya membutuhkan banyak tenaga, tidak mungkin jika saya tidak makan. Apalagi memang tidak diperkenankan membawa makanan dari luar, yap, termasuk karyawan. Saya juga biasa mengkonsumsi cemilan-cemilan yang sangat manis. Tujuannya sih untuk menambah tenaga. Tapi saya perhatikan jerawat saya jadi besar-besar, berbeda dengan sebelumnya.

Akhirnya saya penasaran dan mulai cari tahu. Ternyata, bagi beberapa orang, makanan juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jerawat. Junkfood yang tinggi kadar gula bisa menjadi kontributor utama pembentukan jerawat.

Loh koq bisa? Iya, mengkonsumsi banyak.gula berarti tubuh akan memproduksi lebih banyak insulin. Insulin yang berlebihan ini bisa menyebabkan tubuh melepaskan hormon yang menyebabkan androgen lebih banyak. Nah androgen ini merupakan salah satu penyebab terbentuknya jerawat. Jerawat yang tumbuh pun biasanya sangat membandel dan sulit sekali disembuhkan.

Saya berusaha pergi ke dokter kulit sekitaran Kramat Jati. Disana saya diberikan krim pagi, sunblock, krim malam dan sabun pencuci muka. Seminggu pemakaian, saya merasa obat yang diberikam terlalu keras. Kulit saya mengelupas, merah dan perih. Sementara untuk jerawatnya sendiri tidak ada perubahan.

Saya memutuskan untuk bertahan. Hingga pemakaian tiga bulan, jerawat saya tidak kunjung berkurang. Sama saja. Hanya bedanya wajah saya lebih merah dan kulit saya menjadi tipis. Akhirnya saya stop pemakaian.

Hari demi hari, jerawat saya semakin sering muncul dan besar-besar. Terutama di area dagu. Duh, ini sangat membuat saya tidak percaya diri. Saya biasa menggunakan masker untuk menutupnya.

Saya baru menyadari, semenjak menggunakan obat dokter, kulit saya menjadi sangat sensitif. Mudah skali berjerawat dan bruntusan. Salah pakai bedak, bruntusan. Lupa cuci muka, jerawatan. Kepanasan, langsung memerah dan perih. Duh.. Rasanya sudah putus asa.

Ditengah keputusasaan, teman saya akhirnya menawarkan obat jerawat, dri klinik kecantikan yang dia beli secara online. Dia memberikan bukti-bukti dari teman-temannya yang lain yang sudah lebih dulu memakainya. Diimingi-imingi pertanggungjawaban jika sesuatu terjadi pada wajah saya, saya pun akhirnya memutuskan untuk membelinya.

Lalu, apa yang terjadi?

Bencana baru datang lagi. Mungkin ini akan saya bahas pada tulisan selanjutnya. Untuk part ini, rasanya sudah terlalu panjang saya bercerita.

Sayonara!

Total
1
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: