Jodoh, rejeki dan maut memang menjadi rahasia Tuhan, Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika seseorang menjalin hubungan, membangun komitmen, menjaga rasa saling percaya, terlihat bahagia tanpa ada masalah yang berarti, menjaga komunikasi, namun pada akhirnya berpisah, mau bilang apa? Selalu ada saja cara-Nya untuk memisahkan dan mempertemukan kita dengan jodoh yang sebenarnya.

Saat telah merancang masa depan, menetapkan target, menyusun strategi, berangan-angan saat sudah berusia senja tengah berbincang-bincang dan tertawa di teras rumah bersama istri tercinta, tapi ternyata takdir Allah malah berkata lain, mau bilang apa?

Bahkan saat belum sempat merealisasikan setiap target, malah kita yang menjadi target malaikat maut, mau bilang apa? Tak ada yang dapat diperbuat. Tak bisa dicegah. Bahkan ketika kita telah bersembunyi di dalam benteng yang besar lagi kokoh pun, ajal tetap bisa menjemputmu.

Saat sudah berusaha maksimal, kerja keras banting tulang, berdoa penuh siang-malam, meminta kepada Sang Maha Pemberi Rejeki, ikhtiar kesana kemari, semua cara halal telah dilakukan, tapi masih juga tidak tercapai, mau bilang apa? Allah selalu memiliki cara untuk bisa memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.

Mungkin apa yang kau minta memang bukan yang terbaik untuk mu. Masih ada yang lebih baik. Mungkin memang bukan di sana tempat mu menjemput rejeki. Mungkin ada di tempat lain yang jauh lebih baik.

Sebagai manusia biasa, rasa kecewa merupakan hal yang sangat wajar ketika apa yang diimpi-impikan selama ini tidak tercapai. Padahal mungkin semua cara sudah dilakukan, seluruh tenaga sudah dikerahkan, doa siang-malam tiada henti dihaturkan, dalam sujud terakhir tidak pernah terlewatkan, ridho orang tua sudah didapatkan, tapi apa yang diinginkan tak kunjung jadi kenyataan. Gagal lagi.

Hancur rasanya. Tak tahu badan, terasa melayang, pikiran kacau tidak karuan, bahkan untuk bernapas pun sulit dilakukan. Ingin rasanya sesegera mungkin berlari ke suatu tempat, menangis, berteriak, mengadu pada-Nya.

Semua wajar. Akan tetapi yang perlu diingat adalah bagaimana cara kita untuk bangkit kembali setelah hancur karena rasa kecewa itu. Bagaimana cara kira untuk kembali menata hati, memintal semangat dan kembali merancang masa depan.

Mungkin ada satu hal yang seharusnya kamu syukuri yaitu setidaknya kamu tahu bahwa apa yang terjadi adalah takdir. Jika takdir Allah yang sudah berkata, mau bilang apa?

Setidaknya kamu menjadi tahu bahwa apa yang terjadi bukanlah karena kelalaianmu, bukan karena kesalahanmu ataupun karena usahamu yang tidak maksimal, melainkan karena memang sudah takdir yang seperti apapun kamu lawan, akan tetap terjadi.

Mungkin seharusnya ada rasa puas saat kamu tahu bahwa itu memang sudah kehendak yang Maha Berkehendak.

“Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. At-Talaq : 3)

“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku.” (Q.S. Yusuf : 86)

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu merasa bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-Imran : 139 )

Kuatlah, bangkitlah, tata kembali hati dan semangatmu. Kejar kembali mimpi-mimpimu. Kembali berusaha maksimal untuk sesuatu yang InsyaAllah menjadi takdirmu. Jangan kalah, jangan menyerah.

Tulisan ini saya buat beberapa tahun yang lalu dan bukan untuk siapa pun. Ini saya buat sebagai self reminder, agar saya selalu ingat bahwa Takdir Allah tidak dapat diubah.

Ketika itu saya berusaha untuk menguatkan diri saya sendiri saat saya merasa hancur berantakan dan sendirian. Tapi mudah-mudahan ini bisa bermanfaat bagi yang lain, yang juga merasakan apa yang pernah saya rasakan dan tidak tahu bagaimana harus bangkit.

Ya Allah, tegarkan hati kami jika takdir-Mu tak sesuai dengan harapan. Jika apa yang selama ini diperjuangkan bukanlah yang terbaik menurut-Mu. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: