Sudah lumayan lama rasanya saya tidak menulis artikel apapun. Nyaris saja saya lupa perihal username dan password untuk login.

Sebenarnya jari sudah sangat gatal untuk kembali cetak cetik. Bahkan terkadang saat mood sedang bagus-bagusnya, ada banyak sekali ide yang datang untuk menulis.

Sayangnya, pekerjaan utama saya menyita banyak waktu. Terlihat sibuk, padahal waktu hanya habis dalam perjalanan berangkat dan pulang kerja mengingat jarak kantor – rumah yang tidak bisa dibilang dekat. Ditambah lagi loyalitas tanpa batasnya seorang karyawan yang sedang merintis karir. Dunia seolah hanya tentang pekerjaan.

Tapi kali ini saya benar-benar tidak tahan untuk menulis. Menuliskan apa yang saya mau.

Yap! Saya hanya menuliskan apa yang ingin saya tulis. Jika teman-teman yang lain menulis untuk mengikuti lomba ini itu atau untuk mempromosikan ini itu, saya hanya ingin menulis apa yang saya inginkan.

Ketika saya menuliskan sesuatu yang saya inginkan, saya merasa menjadi diri saya sendiri. Tulisan mengalir begitu saja. Beda halnya ketika saya menulis untuk tujuan lain. Saya tentu akan menjadi sangat berhati-hati dan cenderung tidak menjadi diri saya sendiri.

Sejak awal, tujuan saya menulis memang untuk diri saya sendiri. Sebagai self reminder atau sebagai bahan atau materi pelajaran yang saya rangkum untuk diri saya sendiri tentunya.

Paragraf pembuka di atas rasanya terlalu bertele-tele ya.. Tak apa, toh saya hanya menuliskan apa yang saya mau dan saya suka. Ya jadi suka-suka saya. Hehe..

Bagi kalian yang secara tidak sengaja membaca artikel ini, saya beri sedikit bocoran yah.

Isi artikel ini hanya curhatan, cuap-cuapnya perempuan kurang liburan. Jadi bagi yang kurang menyukai cuap-cuapnya perempuan, silahkan di close saja sebelum merasa menyesal telah membaca dan mebuang-buang waktu.

Tapi bagi kalian yang memilih untuk bertahan hingga akhir tulisan ini, saya haturkan ribuan terimakasih sudah mau membaca. Karena pada hakikatnya, ketika seorang perempuan mulai mengoceh, dia hanya butuh didengarkan, dalam hal ini tentu maksudnya adalah “dibaca tulisannya”.

Sesuai judul yang saya tuliskan di atas, pada tulisan ini saya akan cuap-cuap mengenai kepercayaan.

Bukan.. Bukan soal keyakinan atau agama. Melainkan mengenai sebuah rasa percaya yang dimiliki seseorang untuk orang lain.

Dulu saat masih duduk di bangku SMP, salah seorang guru yang saya lupa namanya, mengatakan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga.

Eh, bukan itu maksud saya. Itu adalah lagu pembuka sinetron jaman dulu “Keluarga Cemara”. Anak 90-an pasti hafal. *Yah jadi ketahuan tuanya kan.

Guru mengatakan “Harta yang paling mahal dan tak ternilai adalah Kepercayaan.”

Dulu saya masih belum paham betul apa maksudnya. Sebuah rasa percaya disamakan dengan harta yang kala itu saya anggap hanya mengenai uang, rumah, serta barang-barang mewah lainnya. Yaaa pikiran anak bocah.

Semakin dewasa, sedikit demi sedikit saya mulai memahami maksud dari kalimat tersebut.

Kepercayaan berawal dari rasa nyaman disertai komunikasi yang baik. Seperti halnya seseorang yang menjalin komunikasi yang baik dengan temannya dan merasa nyaman. Lambat laun akan tumbuh rasa percaya hingga akhirnya tidak segan untuk berbagi cerita apapun dengannya.

Seperti juga halnya seorang karyawan yang menjalin komunikasi yang baik dengan atasan disertai kinerja yang baik. Lambat laun sang atasan menjadi sangat percaya kepada karyawan tersebut dan si karyawan pun akhirnya bisa menjadi karyawan yang sangat diandalkan.

Kepercayaan juga merupakan sebuah amanah yang harus sangat dijaga karena tidak hanya mengenai sesuatu yang dipercaya, melainkan juga mengenai kualitas diri kita untuk bisa mempertahankannya atau tidak.

Tapi untuk mendapatkan kepercayaan bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa mendapatkannya. Butuh pembuktian nyata untuk bisa mendapatkan kepercayaan.

Masih perkataan dari Sang Guru, Beliau mengatakan bahwa memberikan kepercayaan kepada seseorang merupakan hal yang sangat tidak mudah dilakukan dalam kehidupan. Itulah mengapa kepercayaan menjadi sangat mahal harganya.

Ketika kita sudah mendapatkan kepercayaan, maka apapun yang akan kita lakukan akan sangat dipermudah. Semua seolah-olah ada dalam genggaman.

Sayangnya tidak sedikit orang yang sudah susah payah mendapatkan kepercayaan, malah merusaknya dengan sangat mudah.

Ketika sebuah kepercayaan telah rusak, maka bisa dikatakan orang tersebut mendapat petaka.

Yaa.. Malapetaka bagi mereka yang merusak kepercayaan yang telah diberikan orang lain kepadanya.

Ibarat piring yang dipecahkan, ribuan maaf tidak akan bisa membuatnya kembali utuh.

Ibarat kertas yang sudah diremukkan, ribuan maaf tidak akan bisa mengembalikannya seperti semula.

Ketika sebuah kepercayaan dirusak maka ia tidak akan pernah bisa kembali seperti sedia kala.

Mungkin bibir mengatakan “Baiklah, saya maafkan untuk kali ini”. Tapi hati seseorang yang telah kecewa karena kepercayaannya dirusak, tidak akan dengan mudahnya memaafkan.

Ada rasa kecewa disana. Rasa kecewa yang tidak akan dengan mudah terhapuskan. Dapat dipastikan juga bahwa rasa percaya pun telah hilang.

Apapun yang dilakukan oleh orang tersebut tidak akan dengan mudahnya dipercaya. Otak masih merekam kesalahan yang pernah dilakukan.

Pun ketika orang tersebut telah berkata jujur, dia tidak akan dengan mudahnya dipercaya lagi. Setiap perkataannya pasti menimbulkan tanda tanya. “Jujurkah?”

Otak kita sudah ter-setting bahwa dia adalah seseorang yang salah yang selalu berbuat salah dan pembohong.

Saya paham betul akan hal itu.

Ketika kepercayaan sudah dirusak, apapun yang dilakukan orang tersebut pasti akan disangkut pautkan dengan kesalahan yang pernah diperbuat.

Bahkan bersumpah pun percuma. Rasa percaya yang sudah hilang tidak akan kembali hanya karena sebuah sumpah yang diucapkan. Karena bersumpah pun tidak akan menjamin dan tidak ada jaminannya. Kita tidak akan pernah tahu apakah sumpah tersebut sumpah sebenarnya atau tidak. Kenapa begitu? Ya jelas karena memang rasa percaya kita terhadapanya sudah hilang. Jadi apapun yang dikatakan akan tetap diragukan.

Mungkin diantara kalian ada yang berniat membalas atau menghukum mereka yang sudah merusak kepercayaan. Tapi ketahuilah, kehilangan sebuah kepercayaan adalah hukuman yang sudah sangat cukup untuk mereka.

Perjuangan untuk mendapatkan kepercayaan memang sulit. Tapi sangat jauh lebih sulit perjuangan untuk mengembalikan kepercayaan tersebut.

Lalu bagaimana? Apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan jika bersumpah pun tidak dapat diterima?

Waktu.

Ya, kawan. Hanya waktu yang bisa membuktikan dan mengembalikannya. Tentunya butuh waktu yang juga sangat lama.

Terkadang mereka yang sudah merusak kepercayaan tidak sabar menanti waktu berlalu. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka bisa untuk kembali dipercaya.

Waktu juga yang akan menjawab apakah orang tersebut akan melakukan kesalahan yang sama atau memang bisa untuk kembali dipercaya.

Maka biarkan waktu yang membuktikan apakah seseorang yang sudah merusak kepercayaan bisa kembali mendapatkannya.

Lalu jika kalian masih merasa geregetan dan ingin membalas lantas bertanya kira-kira hukuman apa yang tepat bagi mereka yang sudah merusak kepercayaan?

Mungkin hukuman yang tepat bagi mereka yang sudah merusak kepercayaan adalah dibuang ke laut untuk dijadikan empan ikan hiu.

Dan mungkin seharusnya sekarang saya sedang berada di laut, berusaha menyelamatkan diri dari ikan hiu.

“Jangan merusak kepercayaan. Karena untuk mengembalikannya sangat berat. Kau tidak akan kuat. Biar orang lain saja”.  -Dilan da Petaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: