Tulisan kali ini terinspirasi dari pengalaman saya sendiri serta beberapa cerita yang pernah saya dengar atau saya lihat dengan nyata. Pada kesempatan ini saya hanya akan berbicara panjang lebar tentang pendapat saya, sudut pandang saya. Istilahnya ngabulatuk dan mungkin akan ada pihak yang pro maupun contra. Boleh disimak!

Idealnya, dalam sebuah hubungan hanya terdapat dua status, orang pertama dan orang kedua. Dalam hubungan rumah tangga pun, menurut pandangan banyak orang idealnya hanya ada suami dan istri. Bukan suami, istri pertama, istri kedua dan seterusnya. Meskipun dalam Islam seorang laki-laki diperbolehkan menikahi lebih dari satu perempuan, tentunya dengan syarat khusus. Tapi yang perlu diingat, tidak semua hati siap untuk berbagi.

Kehadiran orang ketiga kerap kali dianggap sebagai penghancur suatu hubungan. Baik yang masih pada fase “pacaran” bahkan sampai menghancurkan rumah tangga. Apalagi akhir-akhir ini sedang gencarnya berita tentang pelakor di sosial media. Tentang perempuan yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain dan membuat rumah tangga tersebut berantakan.

Ya, siapa pun pasti setuju jika orang ketiga disebut sebagai perusak hubungan. Sosok antagonis yang menjadi benalu. Orang ketiga adalah kekasih gelap, yang bermain bersama pegkhianatan. Jelas sangat gelap arti dari orang ketiga ini.

Tapi bagaimana jika kamu sendiri yang berpaling pada orang ketiga? Apakah orang ketiga ini bisa disebut penghancur? Menurut saya tidak. Melainkan kamu sendiri yang menghancurkannya.

Orang ketiga ini biasanya hadir karena “diundang”. Sering kali tanpa disadari kamu telah mengundang orang ketiga, lalu terjebak didalamnya. Terjebak dalam hubungan yang tidak seharusnya kamu jalani. Saat sadar, kamu berusaha untuk berhenti dan mencari jalan pulang. Sayangnya kamu terlambat. Kamu sudah terlanjur mencintainya.

Tapi banyak kita lihat orang yang dengan sengaja mengundang orang ketiga. Bahkan ada beberapa yang memang senang menjadi orang ketiga. Dengan alasan iseng, sekedar have fun, mencari tantangan dan lain-lain. Mungkin bagi mereka ada kepuasan tersendiri.

Atau mungkin si orang ketiga ini tidak sengaja menjatuhkan hatinya pada orang yang telah memiliki pasangan. Lalu dia hanya berusaha memperjuangkan apa yang menjadi pilihannya. Tapi apakah merebut cinta dari orang lain bisa disebut memperjuangkan? Tentu saja tidak. Bagaimana pun menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain, apalagi disengaja merupakan kesalahan.

Orang ketiga ini pun tidak akan hadir jika tidak ada ruang kosong antara kamu dan pasangan. Dia bisa hadir karena adanya celah diantara hubungan kalian.

Masalahnya, masih banyak pasangan yang “memberi celah” bagi orang ketiga. Bahkan tak jarang yang dengan sengaja menghadirkannya. Ingat, pintu pertahanan sebuah hubungan ada pada diri masing-masing. Jika kalian berkomitmen untuk menjaganya, tentu tidak akan ada pihak lain yang berani masuk.

Tapi, tidak selamanya orang ketiga memiliki stigma buruk. Contoh, ada sepasang kekasih yang si pria selingkuh dengan wanita lain. Sayangnya si wanita lain ini tidak tahu bahwa pria tersebut sudah memiliki pasangan. Nah yang menjadi korban tentunya adalah kedua wanita ini. Si wanita lain menjadi korban karena ketidaktahuannya.

Beda cerita jika si wanita ini sudah mengetahuinya tapi masih terus melanjutkan hubungan dan menjadi orang ketiga. Mungkin dia memang sengaja merusak hubungan kalian.

Tapi pernahkah kalian berpikir bahwa orang ketiga telah menyelamatkanmu dari pasangan yang salah?

Misalnya begini, kamu dan pasangan sudah menjalin hubungan cukup lama dan kamu memang sudah berniat untuk serius. Tapi sayangnya, si pasangan berkali-kali menghadirkan orang ketiga. Mungkin diawal, kamu bisa saja memaafkan dan kembali menjalin hubungan. Tapi jika terjadi untuk kesekian kalinya, tidakkah kamu berpikir bahwa si pasangan ini memang orang yang bermasalah?

Mungkin kamu merasa kecewa. Tapi dengan hadirnya orang ketiga, kamu mulai bisa membuka mata. Kamu mulai bisa melihat bahwa pasangan mu saat itu bukanlah orang yang tepat untuk mu.

Mungkin diawal kamu merasa kecewa,terluka dan sakit hati. Tapi saat kamu telah menemukan orang yang tepat, kamu akan merasa bersyukur. Yap, kamu akan bersyukur akan pernah hadirnya orang ketiga tersebut. Karenanya kamu bisa melepas orang yang salah dan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari dia.

Contoh lain, kamu memiliki hubungan yang kurang baik dengan pasangan. Saat kamu sudah berusaha untuk selalu mengerti, pasangan mu malah sebaliknya. Selalu membuatmu kecewa. Kamu merasa sudah tidak bisa melanjutkan hubunganmu. Kamu tahu bahwa pasangan mu pada saat itu bukanlah orang yang tepat untukmu.

Lalu datanglah seorang temanmu. Dia yang semula bukan siapa-siapa, tiba-tiba saja hadir disamping mu. Perlahan tapi pasti rasa cinta mu tumbuh kepadanya. Semakin hari semakin bertambah. Kamu mulai merasa bahwa dialah yang kamu cari selama ini. Dialah orang yang tepat untukmu. Ini berarti dia telah membuka matamu dan telah membuka pula hatimu.

Dialah yang menyelamatkan mu dari pasangan mu yang salah. Dialah yang menyelamatkanmu dari hubungan sebelumnya yang kamu jalani karena rasa terpaksa dan penuh dengan beban. Dalam kasus ini, orang ketiga disini tidak bisa dibilang negatif. Justru sebaliknya karena dia telah menyelamatkan mu dari hubungan yang salah. Bersyukurlah jika kamu bertemu dengan orang seperti ini. Bisa dikatakan dia adalah guardian angel-mu.

Nah, seperti yang telah saya katakan sebelumnya bahwa orang ketiga hadir karena adanya celah antara kamu dan pasangan. Menurut saya, ada beberapa hal yang bisa menjadi celah hadirnya orang ketiga dalam sebuah hubungan.

1. Berawal dari “Kakak-Adek” an

Tak jarang sebuah hubungan berawal dari “kakak-adek”an. Tidak ada yang salah ketika menganggap seseorang hanya sebatas hubungan kakak-adek alias kakak-adek zone. Tapi pernahkah kalian berfikir dari hubungan dekat itu akan muncul perasaan yang tidak seharusnya dari salah satu diantara kalian? Atau bahkan mungkin keduanya. Sehingga mengorbankan pasangan sendiri.

Bagi kalian memiliki gebetan yang sedang memiliki hubungan kakak-adek dengan orang lain, saya sarankan kalian mundur. Karena bisa saja suatu saat nanti yang menjadi orang ketiga adalah si kakak/adek tersebut. Atau mungkin gebetan kalian tersebut sedang menjalin hubungan kakak-adek tahap serius menuju pacaran. Hanya saja mereka malu-malu mengakui bahwa memang sedang “dekat”. Kita tontonin aja dulu sambil makan kacang. ?

2. Jarak

Nah, yang satu ini saya akui memang agak sulit. Sebagian besar orang gagal dalam hubungan jarak jauh ini. Tapi, tidak sedikit juga yang berhasil melewatinya dan berakhir di pelaminan.

Jarak memang bisa saja menjadi hal yang sangat menyiksa. Terlebih ketika sudah rindu berat. Bicara di ujung telepon saja masih belum cukup rasanya.

Nah, disaat seperti inilah komitmen serta kesetiaan pasangan diuji. Apakah mereka bisa bertahan dan menunggu, atau bahkan berusaha melupakan dan mencari pengganti baru.

Ketika seseorang tidak mempunyai komitmen yang kuat, dia akan berusaha mencari sosok baru. Mencari sosok yang sekiranya bisa mengobati rindu pada seseorang yang jauh di sana. Bukan mengobati rindu, melainkan menghapus rasa rindu, bahkan melupakan seseorang di sana. Kebayang ga sih sakitnya, ketika kita berusaha menjaga hati, tapi pasangan malah bermain hati dengan orang lain.

Disaat seperti inilah sebuah komitmen berperan sangat penting. Selama komitmen tersebut dipegang teguh, tidak akan ada pihak yang berani merusaknya. Memang, hubungan jarak jauh hanya bisa dijalan oleh pasangan yang memiliki komitmen kuat dan tidak mudah menyerah pastinya.

3. Komunikasi terlalu intens dengan lawan jenis

Ketika berkomunikasi terlalu intens dengan lawan jenis tanpa menghiraukan batas, disanalah celah hadirnya orang ketiga tercipta. Misalnya dalam hal pekerjaan atau hobi. Kalian sangat seru ketika bertukar pikiran hingga akhirnya membandingkan teman tersebut dengan pasangan kalian. Kalian mulai berpikir “Seru juga yah ngobrol sama dia. Ga kayak si pacar. Diajak ngobrol hobi gue mana nyambung”.

Nah, selesai sudah. Kalian mulai memelihara rasa nyaman yang tidak seharusnya dengan orang lain. Kalian mulai intens berkomunikasi, bahkan diluar hobi dan pekerjaan. Saat-saat seperti itulah kalian mulai lupa terhadap batas. Atau mungkin sengaja melupakan batas? Lagi-lagi, yang bisa menyelamatkan hubungan kalian hanya komitmen yang kalian buat. Itu sudah.

Jadi sebaiknya kurangi komunikasi yang tidak terlalu penting dengan lawan jenis. Jangan lupa terhadap komitmen yang kalian buat dan jangan lupa terhadap batas jika tidak ingin hubungan kalian berantakan.

4. Tidak punya komitmen

Ini sudah sangat jelas tidak benar. Pasangan yang sudah memiliki komitmen saja masih bisa berantakan karena tergoda setan satu itu. Apalagi yang tidak punya komitmen. Itu sudah jelas dia tidak mempunyai niatan serius dengan kalian. Masih ingin nemplok kesana kemari.

Jika ternyata pasangan kalian belum bisa diajak berkomitmen, saya sarankan untuk menyudahi saja hubungan kalian. Bukan menakut-nakuti. Tapi hubungan tanpa komitmen adalah hal yang sia-sia. Dari pada makan hati?

Nah, dari apa yang sudah saya bicarakan di atas, garis besar yang bisa ditarik adalah orang ketiga tidak akan hadir jika tidak ada celah. Selain itu, komitmen juga sangat berperan penting dalam sebuah hubungan serius.

Sedikit curhat, saya pernah beberapa kali merasa sangat dikecewakan oleh pasangan sebelumnya karena hadirnya orang ketiga. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menyudahi hubungan tersebut.

Kemudian saya menemukan seseorang yang tentu saja jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Disini saya pun merasa bersyukur atas hadirnya orang ketiga pada hubungan sebelumnya. Karena jika tidak, saya tidak mungkin bisa bersama pasangan saya saat ini.

Tapi rasa sakit hati dimasa lalu membuat saya sangat ketakutan, sangat takut kehilangan. Saya menjadi seseorang yang sangat posesif. Saya tahu, ini jelas tidak adil bagi pasangan saya saat ini. Sikap saya yang posesif jelas akan membuatnya tidak nyaman. Padahal sejak awal saya tahu dia seseorang yang memegang teguh komitmen.

Hingga akhirnya salah seorang teman menasehati saya. Sangat bijak. Dia mengatakan bahwa tugas saya saat ini adalah menjadi yang terbaik untuk pasangan dan memberikan yang terbaik. Jika mungkin pada akhirnya saya dikecewakan kembali, itu berarti apa yang dia cari memang tidak ada pada diri saya. Tidak seharusnya saya sakit hati dan kecewa. Toh, Tuhan telah menciptakan kita berpasang-pasangan. Akan sangat sulit jika saya berusaha menjadi orang lain hanya agar dia bertahan dengan saya.

Sedikit demi sedikit rasa takut saya mulai menghilang. Sedikit demi sedikit rasa percaya saya semakin bertambah, hari demi hari. Ya, teman saya benar. Tugas saya hanya menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik.

Jangan mendua, berdua saja. Itu sudah lebih dari cukup. Karena sendiri adalah sepi dan bertiga adalah luka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: