Dear Allah,

Tentang yang telah lalu, tentang kemarin, tentang hari ini dan tentang hari esok. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan pada-Mu. Meski ku tahu, semua yang terjadi adalah atas kehendak-Mu.

Ada banyak sekali hal yang akan ku mohon pada-Mu. Tapi baru beberapa kata saja bibir ini sudah gemetar. Dada ku terasa sesak. Ceritaku rasanya sangat sulit kujelaskan dalam kata-kata. Permohonan terlalu banyak hingga tak mampu aku sebutkan.

Aku malu. . .

Subuhku masih sering kesiangan. Dzuhur ku masih terburu-buru karena kesibukan. Ashar ku masih saja tertunda karena pekerjaan. Maghrib ku  sering nyaris terlewat karena kemacetan. Isya ku tidak khusyuk karena nyaris ketiduran. Tapi permintaanku masih saja kebanyakan.

Aku merasa menjadi makhluk yang paling tidak tahu diri. Tapi, kepada siapa lagi aku harus meminta selain kepada-Mu yang Maha Memberi.

Dear Allah,

Belakangan ini aku seperti berjalan dengan banyak beban. Tapi tak ada satu pun yang bisa aku bagikan pada manusia lain. Mereka sudah menanggung bebannya masing-masing. Egois rasanya jika masih saja ku bagikan bebanku pada mereka.

Semakin jauh berjalan, aku semakin takut terjatuh lalu tertimpa semua bawaanku. Bergedebuk keras lalu berantakan seluruhnya. Manusia lain tak mungkin membantuku. Mereka hanya menonton, lalu kembali sibuk dengan bawaannya. Tak ada yang mungkin menolongku.

Aku sendirian. .

Tapi Engkau menolongku, bahkan disaat aku lalai kepada-Mu. Aku kembali berdiri, merapihkan kembali bawaanku. Kaki ku gemetar. Aku ragu untuk kembali melangkah.

Aku malu. .

Dear Allah,

Sesungguhnya tujuanku sederhana. Aku hanya ingin bahagia, membahagiakan orang tua ku dan bisa membantu sesamaku. Aku ingin belajar dan membagi ilmuku.

Tapi entah kenapa tujuan itu terasa masih sangat jauh. Ada sungai besar di depan mataku dan hanya ada jembatan kecil disana yang mau tidak mau harus aku lewati.

Kaki ku masih gemetar. Aku takut terjatuh ke sungai, terseret arus dan tak ada yang bisa menolong ku. Aku ingin sampai pada tujuan ku. Tapi untuk melangkah pun aku masih ragu.

Tapi Allah, terimakasih. Sungguh, Kau Maha Baik.

Kau menghadirkan seseorang yang siap menemaniku untuk melewatinya. Seseorang yang siap menggenggam tanganku saat aku terlalu takut untuk melangkah. Seseorang yang siap membantuku berdiri saat aku terjatuh. Yang siap memberikan bahunya untukku bersandar saat aku terlalu lelah berjalan dengan semua bawaanku.

Maaf, hanya baru pada saat kalut aku buru-buru menyebut nama-Mu.

Hamba-Mu ini, memang tidak tahu diri..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: