Minggu lalu saya berkesempatan untuk mengikuti sebuah trip liburan ke Yogyakarta yang diadakan oleh sebuah travel yang sedang mengadakan promo liburan.

Berhubung saya merasa sudah lumayan jenuh dengan rutinitas sehati-hari ditambah tekanan kerja yang lumayan, saya memutuskan untuk mengambil kesempatan tersebut.

Jika dihitung-hitung dengan perbandingan melakukan trip sendirian, saya bisa menghemat uang sangat lumayan. Kapan lagi ya kan bisa ikut liburan dengan biaya yang ngga bikin sawan tapi sudah dapat layanan yang sangat lumayan.

Selain bisa menambah teman-teman baru, saya juga bisa berkunjung ke tempat-tempat yang selama ini saya idam-idamkan dan pastinya isi dompet sangat aman.

Rencana awal saya ingin mengajak seorang teman saya dari awal kuliah untuk liburan ke Yogyakarta. Tapi karena kesibukan yang berbeda akhirnya rencana tersebut belum juga terealisasi.

Kami, saya dan teman-teman dari travel, berangkat dengan menggunakan pesawat Batik Air dari Bandara Internasional Halim Perdana Kusuma. Lama tidak naik pesawat, malam itu saya sangat menikmati perjalanan. Meskipun telinga saya terasa seperti ditusuk-tusuk. Saat sedang asik-asiknya menikmati perjalanan, tak terasa pesawat sudah akan landing.

Kurang dari satu jam, saya sudah menginjakkan kaki saya di Bandara Internasional Adi Sutjipto. Udara malam itu terasa jauh lebih sejuk dari biasanya. Entah karena saya terlalu antusias atau memang karena udara di sana berbeda dengan di Jakarta yang penuh polusi.

Menikmati liburan selama beberapa hari di Yogyakarta, tiba-tiba terselip rasa rindu kepada Jakarta. Rasa rindu itu datang begitu saja. Tanpa sadar saya membanding-bandingkan. Dan dari sanalah saya sadar ada beberapa hal yang saya rindukan dari Jakarta. Apa saja?

  1. Makanan Pedas
salah satu makanan favorite

Yups, ini salah satu yang sangat sangat saya rindukan ketika itu. Saya adalah salah satu dari banyak pencinta makanan dan cemilan pedas. Meskipun saya memang menderita maag, tapi rasanya hidup saya tak lengkap jika makan tanpa ada ‘Huh-hah’ nya. Rasa kurang seru gitu. Hehe..

Mungkin bagi kalian pencinta makanan manis, kota Jogja akan terasa seperti surga. Karena di sini saya sangat mudah sekali menemukan makanan manis. Teman-teman saya yang lain seolah mengejek saya ketika sedang makan. Mereka terlihat lahap sekali sementara saya yaaaa begitu. Seperti ada yang hilang. Bukan tidak makan, hanya kurang bergairah rasanya.

Sebenarnya di sana ada juga beberapa makanan pedas yang saya temukan. Hanya saya rasa pedasnya berbeda dengan rasa pedas di Jakarta. Ada rasa manis-manisnya (ini bukan iklan minuman mineral).

Ada salah satu tempat makan yang lumayan ternama disana. Makanan manis sebenarnya, tapi entah kenapa saya antusias karena memang tempat makanan ini sangat tenar dan membuka banyak cabang. Sangat mudah menemukannya.

Saat itu saya berpikir “Wah enak nih kayaknya. Gpp lah yaaa makan yang manis-manis dulu. Nanti di Jakarta baru makan pedas lagi.”

Sesampainya di tempat makan langsung saja saya memesan menu yang menjadi andalan di tempat makan itu lengkap dengan es teh manis tercinta. Menunggu sebentar, rasanya saya sangat tidak sabar.

Ketika makanan datang, tanpa banyak berpikir langsung saya sikat. Pada suapan pertama ekspektasi saya hancur berantakan. Ekspektasi saya yang terlalu tinggi, tidak sesuai dengan realita.

Saya makan dengan setengah hati. Ketika hendak membayar saya kembali memperkirakan harga makanan yang tadi setengah hati saya makan. Di Yogya ini apa-apa serba murah. Harga apapun jika dibandingkan dengan Jakarta bisa dibilang lumayan jauh.

Saat total makanan dan minuman disebutkan, saya merasa semakin sedih. Bahasa kerennya mah ‘Terpukul’. Mahal broooo.. hiks hiks.. Kalo enak oke lah ya. Ini udah makan setengah hati, ehh harganya malah ga pakai hati. Beginilah yang terjadi saat  ga punya uang tapi maksa liburan. Remuk hati saya sist..

Dari sanalah saya tahu, mungkin ini yang namanya KECEWA, yang kalo udah terbang bikin semua orang lari tunggang langgang.

  1. Minimarket
Gambar oleh dinamikakepri.com

Saya termasuk orang yang suka berbelanja di minimarket seperti alfamart dan indomaret. Saya merasa bisa dengan mudah menemukan apa yang saya cari. Dari segi harga pun sebenarnya tidak berbeda terlalu jauh.

Di Jakarta apalagi di Condet tempat saya tinggal (saya anak condet), jarak antara minimarket yang satu dengan yang lainnya sangat berdekatan. Dalam kisaran jarak 1 km, saya bisa menemukan 4 sampai 5 minimarket.

Tapi selama beberapa hari di Yogya saya merasa agak kesulitan menemukannya. Bukan tidak ada, hanya saja jarang dan tidak terlalu menjamur seperti di Jakarta. Kalaupun ada jarak antara minimarket yang satu dengan yang lainnya bisa dibilang lumayan. Atau mungkin karena saya saja yang belum terlalu hapal jalur atau jalan sehingga terkesan lumayan.

Sebagai gantinya saya menemukan banyak sekali warung-warung kelontong di pinggir jalan. Warung-warung tersebut lumayan besar dan barang-barang yang dijual juga bisa dibilang lumayan lengkap. Jadi untuk kerinduan terhadap minimarket ini sebenarnya tidak terlalu besar selama masih banyak warung-warung kelontong yang lengkap.

  1. Udara Jakarta
Cuaca Panas gambar oleh bisnisjakarta.co.id

Entah ini perasaan saya saja atau tidak, saya merasa udara di Jogja terasa lebih panas dari pada di Jakarta. Hawa udaranya juga cenderung lebih gerah pada siang hari. Mungkin karena sedang memasuki pancaroba dimana suhu udara sangat tinggi pada siang hari dan menurun pada malam hari lantaran diguyur hujan.

Dari hari pertama sampai dengan hari keempat, udara rasanya sangat panas. Wajah saya memerah karena panasnya dan rasanya seperti tidak ada angin. Padahal di sana masih banyak sekali pepohonan. Ntah banyak pohon dengan udara panas ada sangkut pautnya atau tidak.. Hehe..

Rasa panas ini jarang saya temukan di Jakarta. Tapi pada sore menjelang malam hari, Yogyakarta diguyur hujan yang lumayan deras. Beberapa kali saya sempat membatalkan niat untuk pergi ke beberapa tempat wisata karena langit mendadak gelap di sore hari.

Yaaa mungkin karena itulah udara Jogja sangat panas pada siang hari. Mungkin next time akan lebih baik. Datang lagi lah kalau begitu. Untuk cek-cek udara aja. Hanjayyy..

  1. Gedung-gedung dan Kelap-kelip Jakarta
Pemandangan Jakarta Malam hari

Saat di Yogyakarta saya difasilitasi penginapan di sebuah hotel tidak jauh dari Jalan Malioboro. Saat check in saya mendapatkan kamar di lantai 8. Lagi-lagi saya merasa antusias membayangkan apa yang akan saya lihat dari kamar lantai 8.

Sayangnya ketika sampai di kamar dan membuka jendela, yang saya lihat hanya perumahan dengan beberapa hotel. Diujung pandangan saya temukan pegunungan di sana. Mata saya bisa leluasa memandang karena tidak ada gedung tinggi yang menghalangi.

Pandangan terasa sangat luas. Sayang, tidak ada kelap-kelip lampu seperti di Jakarta karena memang di sana  masih banyak sekali pepohonan dan sawah.

Tapi semuanya terobati karena pada pagi hingga sore hari saya bisa sepuas hati memandangi pegunungan diujung sana. Sangat cantik!

Lalu saya kemudian saya menyadari..

Mungkin apa yang saya tulis di atas tadi dikarenakan saya belum terbiasa dan hanya beberapa hari tinggal di sana. Sehingga saya belum terlalu hapal dengan jalur-jalur atau jalan pintas. Saya juga masih belum hapal dimana tempat-tempat semacam minimarket yang terdekat.

Mungkin juga saya pergi kesana dalam keadaan cuaca yang kurang mendukung. Sehingga saya merasa cuaca dan udara di sana sangat panas. Bisa jadi ketika saya merasa sangat kepanasan di Jogja, di Jakarta pun tengah mengalami hal yang sama.

Mungkin lain waktu bisa kembali ke tempat ini.

Tapi yang membuat saya tidak menyangka adalah ketika saya sampai di tempat yang selama ini saya idam-idamkan, Jakarta masih saya rindukan.

Jakarta dengan segala problematikanya, dengan segala hiruk pikuknya, dengan semua rutinitasnya, masih bisa membuat saya merasa sangat merindukannya.

Damn, I Love Jakarta.

 

Total
2
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

%d bloggers like this: